Sejarah dan Kondisi Desa

7 09 2011

Pada awalnya kawasan yang saat ini adalah Desa Ranupani merupakan tanah yang dikelola oleh salah satu keluarga Belanda pada masa penjajahan. Pengelolaan tanah di Jawa kepada keluarga Eropa sangat umum pada saat itu, sebagaimana juga pengelolaan sebagian tanah di Dataran Tinggi Iyang oleh keluarga Ledeboer tahun 1916. Kemerdekaan Indonesia pada tanggal  17 Agustus 1945 menyebabkan eksodus bangsa Belanda di berbagai penjuru tanah air dan pelepasan asetnya kepada pemerintah Republik Indonesia. Seiring dengan berjalannya waktu banyak pendatang dari berbagai daerah (Senduro, Singosari, Malang, Ngadas, dll) tinggal menetap di desa tersebut. Saat ini, Desa Ranupani memiliki dua dusun, yaitu Gedokasu (Sidodadi) dan Besaran, dan merupakan salah satu desa  enclave  yang berada dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).  Wilayah pemukiman masyarakat Ranupani dikelillingi oleh hamparan lahan pertanian yaitu yang meliputi antara lain Timbangan di sebelah Utara, Amprong di sebelah Barat, Rondo Kuning di daerahTimur, Suropotong di sebelah Timur Laut, Cadangan di sebelah Selatan dan Dempok di sebelah Barat Daya. Daerah Besaran terdiri dari 3 Rukun Tetangga, sedangkan daerah GedokAsu terdiri dari 4 Rukun Tetangga. Mata pencaharian utama masyarakat adalah petani. Di Desa Ranupani, kulturTengger masih mempengaruhi organisasi masyarakat. Dukun Tengger Ranupani dan tokoh-tokoh informal masih berperan aktif. Pusat pemerintahan Ranupani berpusat di  Argosari. Namun demikian, dengan semakin berkembangnya masyarakat dan situasi sosio-politik, maka pada tahun 1999 Desa Ranupani mulai memasuki babak baru dengan status desa persiapan definitif yang suatu saat akan diharapkan dapat mandiri dan berpisah dengan Argosari (JICA-UB, 2011).

Tanaman yang dibudidayakan masyarakat Ranupani antara lain adalah kubis (Brassica olaraceae  cv.  green coronet), kentang (Solanumtuberosum), bawang polong (Allium porrum) serta tanaman yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan keseharian seperti jagung (Zea mays), benguk (Mucunapruriens), kapri (Pisumsativum), ucet (Phaseolus vulgaris), Lombok terong dan lainnya. Di awal perkembangan Ranupani, kegiatan pertanian tidak memerlukan penambahan pupuk kandang, pupuk buatan dan obat. Meski demikian hasil pertanian sangat memuaskan (JICA-UB, 2011).

Kegiatan Masyarakat Ranupani yang masih dilakukan antara lain:

  1. Kuda Kepang terdiri atas dua kelompok (Sidodadi dan Besaran)
  2. Unan-unan tiap satu windu (8 tahun) sekali
  3. Upacara Karo untuk Selamatan Desa dan dilengkapi dengan Kegiatan Tayupan
  4. Barian Desa untuk Selamatan sistem pengairan desa
  5. Upacara Kasodoan, dan Selamatan Bromo pada hari Jum’at Legi
  6. Upacara setiap 17 Agustus dan diakhiri dengan makan bersama (kendurenan)

Kumpulan Kegiatan Keagamaan Masyarakat antara lain:

  1. Majlis Ta’lim terdiri atas 2 kelompok yang beranggotakan + 80 orang
  2. Majlis Gereja terdiri atas 1 kelompok yang beranggotakan + 20 orang
  3. Majlis Hindu terdiri atas 1 Kelompok yang beranggotakan + 30 orang

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: